Sabtu, 10 April 2010

Makalah tentang gizi usia dewasa



Disusun oleh :
Kelompok 10
Þ Asriyani 207. 313. 013
Þ Siti Suci Afriliyah 207. 313. 001
Þ Thika Febriani 207. 313. 025
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
“VETERAN” JAKARTA
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT
JAKARTA, 2008
KATA PENGANTAR
Dengan rahmat ALLAH SWT akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Tidak lupa juga kami panjatkan puji syukur kepada kehadiratNya. Kami menyusun makalah ini semata-mata untuk memenuhi tugas mata kuliah Gizi.
Kami membuat makalah ini agar dapat bermanfaat bagi mahasiswa lainnya pada umumnya dan pada kami khususnya, apabila terjadi kesalahan dalam penulisan makalah ini kami mohon maaf karena setiap manusia pasti melakukan dan mempunyai suatu kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja.
Tidak lupa kami mengharapkan kritik atau saran dari para pembaca semata-mata untuk menambah kekurangan-kekurangan dari makalah yang kami susun ini.
Akhir kata kami mengucapkan banyak terima kasih atas telah selesainya penyusunan makalah ini kepada sang pencipta, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa lainnya dan kami.
Penulis
Kelompok 10
Gizi Usia Dewasa
Bagi remaja dan wanita usia subur, Dr Husaini Mahdin Anwar MSc, APU mengingatkan bahwa pada usia ini terjadi akil balig. Pada usia ini terjadi perubahan fisiologis dan mental. Diet untuk mereka dibutuhkan 2500 kalori per hari. Gizi untuk usia prakonsepsi diulas Prof Dr dr Darwin Karyadi. Ia mengingatkan, usia ini masuk periode kritis. Gizi suami dan istri pada masa tiga hingga enam bulan sebelum hamil inilah masa yang menentukan kondisi bayi yang akan dilahirkan. Darwin menyebutkan sepuluh jenis makanan yang penting pada masa ini yaitu alpukat, daging sapi, kol, wortel, kiwi, dan lain-lain.
Usia dewasa, yaitu usia akhir 20 tahunan sampai akhir 50 tahun. Pritasari SKM MSc menyebutkan, gaya hidup sehat dan teratur akan menjaga kondisi pada usia lanjut. Pada masa produktif ini, terdapat risiko penyakit degeneratif seperti jantung koroner, diabetes melitus, dan hipertensi. Pada usia ini ada beragam takaran diet, mulai dari 1500 kalori hingga 2200 kalori. Ini tergantung pada aktivitas yang dilakukan.
Zat gizi adalah zat-zat yang diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi, mempunyai nilai yang sangat penting (tergantung dari macam-macam bahan makanannya) untuk memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehari-hari bagi para pekerja. Termasuk dalam memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yaitu penggantian sel-sel yang rusak dan sebagai zat pelindung dalam tubuh (dengan cara menjaga keseimbangan cairan tubuh). Proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yang terpelihara dengan baik akan menunjukkan baiknya kesehatan yang dimiliki seseorang. Seseorang yang sehat tentunya memiliki daya pikir dan daya kegiatan fisik sehari-hari yang cukup tinggi (Marsetyo dan Kartasapoetra, 1991).
Tubuh manusia memerlukan sejumlah pangan dan gizi secara tetap, sesuai dengan standar kecukupan gizi, namun kebutuhan tersebut tidak selalu dapat terpenuhi. Penduduk yang miskin tidak mendapatkan pangan dan gizi dalam jumlah yang cukup.
Mereka menderita lapar pangan dan gizi, mereka menderita gizi kurang. (Sri Handajani, 1996). Keadaan gizi seseorang merupakan gambaran apa yang dikonsumsinya dalam jangka waktu yang cukup lama. Bila kekurangan itu ringan, tidak akan dijumpai penyakit defisiensi yang nyata, tetapi akan timbul konsekwensi fungsional yang lebih ringan dan kadang-kadang tidak disadari kalau hal tersebut karena factor gizi (Ari Agung, 2002).
Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya tubuh melakukan pemeliharaan dengan mengganti jaringan yang sudah aus, melakukan kegiatan, dan pertumbuhan sebelum usia dewasa. Agar tubuh dapat menjalankan ketiga fungsi tersebut diperlukan sejumlah gizi setiap hari, yang didapat melalui makanan. Diperkirakan 50 macam senyawa dan unsur yang harus diperoleh dari makanan dengan jumlah tertentu setiap harinya. Bila jumlah yang diperlukan tidak terpenuhi maka kesehatan yang optimal tidak dapat dicapai (Ari Agung, 2002).
Seperti yang disebutkan oleh Darwin Karyadi (1987) bahwa prevalensi anemi dan gizi kurang masih tinggi di Indonesia. Dipertegas juga oleh Jill dkk (1987) bahwa prevalensi anemi gizi, kekurangan vitamin B1 dan dalam keadaan gizi kurang masih tinggi di Indonesia. Di antara beberapa masalah gizi utama yang terdapat di Indonesia, maka anemia gizi terutama kurang zat besi adalah yang paling umum dijumpai.
Prevalensi anemia gizi pada pekerja di Indonesia terdapat sebanyak 40 % dan banyak dijumpai pada pekerja berat. Prevalensi anemia gizi ini tertinggi di antara negara-negara ASEAN. Prevalensi yang tinggi membawa akibat yang tidak baik terhadap individu maupun masyarakat, karena menurunkan kualitas manusia dan sosial ekonomi, serta menghambat pembangunan bangsa. Hal ini erat hubungannya dengan konsekuensi fungsional anemia gizi tersebut, yaitu menurunkan produktifitas kerja (Husaini, 1997 dan Sri Handajani, 1996)
Pelbagai penelitian baik yang dilakukan di luar negeri maupun di Indonesia menunjukkan bahwa keadaan gizi kurang dapat menghambat aktivitas kerja yang akan menurunkan produktivitas kerja.
Hal ini disebabkan karena kemampuan kerja seseorang sangat dipengaruhi oleh jumlah energi yang tersedia, dimana energi tersebut diperoleh dari makanan sehari-hari dan bilamana jumlah makanan sehari-hari tak memenuhi kebutuhan tubuh, maka energi didapat dari cadangan tubuh (Rachmad Soegih dkk, !987). Kekurangan zat gizi, khususnya energi dan protein, pada tahap awal menimbulkan rasa lapar dalam jangka waktu tertentu berat badan menurun yang disertai dengan kemampuan (produktivitas) kerja. Kekurangan yang berlanjut akan mengakibatkan keadaan gizi kurang dan gizi buruk. Bila tidak ada perbaikan konsumsi energi dan protein yang mencukupi akhirnya akan mudah terserang infeksi (penyakit) (Drajat Martianto, 1992).
Dipertegas oleh Laurentia Mihardja (1994) bahwa telah banyak dilaporkan tentang defisiensi zat gizi besi dapat menimbulkan gangguan pada fungsi ketahanan immunologis, menurunkan konsentrasi belajar, kapasitas kerja dll. Dan De Maeyer (1993) menyebutkan bahwa akibat defisiensi zat gizi besi pada orang dewasa pria dan wanita :
(a) Penurunan kerja fisik dan daya pendapatan; dan
(b) Penurunan daya tahan terhadap keletihan.
Prevalensi anemia gizi di Indonesia sangat tinggi dan berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan secara terpisah, anemia di Indonesia terutama disebabkan oleh defisiensi gizi besi (Husaini, 1989).
Hidayat Syarief (1997) menyebutkan bahwa pada usia dewasa, faktor gizi berperan untuk meningkatkan ketahanan fisik dan produktivitas kerja. Dan selanjutnya disebutkan bahwa tanpa mengabaikan arti penting dari faktor lain, gizi merupakan faktor kualitas SDM yang pokok, karena unsur gizi tidak hanya sekedar mempengaruhi derajat kesehatan dan ketahanan fisik, tetapi juga menentukan kualitas daya pikir atau kecerdasan intelektual yang sangat esensial bagi kehidupan manusia.
Dengan status gizi yang rendah akan sulit untuk hidup secara sehat, aktif, dan produktif yang secara berkelanjutan, dan akan menjadi penyakit turunan.
Manusia untuk kehidupannya membutuhkan energi, hal ini demi berlangsungnya proses-proses dalam tubuhnya, seperti berlangsungnya proses peredaran/sirkulasi darah, denyut jantung, pernapasan, pencernaan, proses-proses fisiologis lainnya, selanjutnya untuk melakukan berbagai kegiatan atau melakukan pekerjaan fisik. Energi dalam tubuh manusia dapat dihasilkan dari pembakaran karbohidrat, protein dan lemak, dengan demikian agar manusia selalu tercukupi energinya diperlukan pemasukan zat-zat makanan yang cukup pula ke dalam tubuhnya. Manusia yang kurang makan akan lemah baik daya kegiatan, pekerjaan-pekerjaan fisik maupun daya pemikirannya karena kurangnya zat-zat makanan yang diterima tubuhnya yang dapat menghasilkan energi.
Dan orang tidak dapat bekerja dengan energi yang melebihi dari apa yang diperoleh dari makanan kecuali jika meminjam atau menggunakan cadangan energi dalam tubuh, namun kebiasaan meminjam ini akan dapat mengakibatkan keadaan yang gawat, yaitu kurang gizi khususnya energi (Marsetyo dan Kartasapoetra, 1991).
Kebutuhan Makanan untuk Berbagai Golongan Umur
Setelah kita mengetahui faedah berbagai jenis makanan maka akan timbul pertanyaan: Berapa banyakkah sebaiknya kita makan berbagai ragam makanan itu? Jawaban atas pertanyaan ini tidaklah sederhana, sebab kebutuhan makanan bagi semua orang tidaklah sama. Oleh karenanya oleh para ahli telah dilakukan eksperimen dan penelitian sehingga diperoleh tabel yang tinggal digunakan oleh barangsiapa yang memerlukannya.
Telah kita maklumi bahwa makanan itu dibutuhkan oleh tubuh untuk menghasilkan energi dan untuk pertumbuhan serta pemeliharaan tubuh. Karena itulah dalam mengatur menu makanan sehari-hari perlu diusahakan agar hidangan merupakan makanan beraneka ragam dan berimbang sesuai kebutuhan zat gizi bagi tubuh tersebut.
Dalam makanan sehari-hari, satu jenis makanan pada umumnya mengandung lebih dari satu macam zat gizi. Misalnya dengan banyak makan sayuran, bisa diperoleh protein dan energi di samping vitamin dan mineral.
Berikut ini akan dibicarakan kebutuhan makanan bagi pria dan wanita pada berbagai golongan umur usia dewasa, ditinjau dari kebutuhan energi dan protein yang terdapat dalam makanan tersebut, sebagaimana tertera dalam tabel anjuran makanan untuk satu hari. Tentu saja makanan pokok maupun lauk-pauk yang diberikan sebagai contoh dalam makanan tersebut dapat diganti dengan makanan lain, asal kebutuhan enegi dan protein masih cocok.
Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan daftar bahan makanan penukar dengan tujuan agar dapat disusun suatu hidangan bervariasi..
Wanita Dewasa
Dalam perkembangannya pada usia dewasa manusia mengalami maturasi. Sampai umur 20-25 tahun berat tulang kerangka manusia meningkat dan kemudian menurun yaitu mulai kurang lebih umur 35 tahun. Berat kerangka menjadi lebih berkurang, tulang lebih berongga dan kurang elastis. Pada wanita, tulang dan otot kurag bila dibandingkan dengan pria. Perbedaan ini menyebabkan adanya perbedaan jumlah kebutuhan makanan antara wanita dan pria seperti di bawah ini.
Kebutuhan energi rata-rata untuk pria dewasa adalah sebagai berikut:
Ø Bekerja berat (menggarap sawah) 3.000 kal/hari
Ø Bekerja sedang 2.600 kal/hari
Ø Bekerja ringan 2.200 kal/hari
Kebutuhan energi rata-rata untuk wanita dewasa adalah sebagai berikut:
Ø Bekerja berat 2.400 kal/hari
Ø Bekerja sedang 2.000 kal/hari
Ø Bekerja ringan 1.700 kal/hari
Perubahan biologis ini juga menyebabkan aktivitas seseorang berkurang dengan bertambahnya usia, yang mengakibatkan berkurangnya kebutuhan energi.
Ditinjau dari segi kesehatan berat badan seseorang perlu mendapat perhatian dan dianjurkan agar seseorang mempunyai berat badan normal.
Adapun berat badan normal itu sama dengan berat badan ideal kutang lebih 10% atau sama dengan 90% dari (tinggi-100) kurang lebih 10%. Sebagai contoh berat badan normal orang yang mempunyai tinggi badan 160 cm adalah :
90/100 x (160-100) ± 10% = 54 kg ± 5,4 kg
Apabila berat orang tersebut lebih dari 10 sampai 20% diatas berat badan ideal atau pada contoh di atas, orang itu mempunyai berat badan diatas 59,4 kg sampai 64,8 kg, maka orang tersebut dikatakan overweight. Apabila berat badannya lebih dari 20% diatas berat badan ideal atau diatas 64,8 kg, maka orang tersebut digolongkan dalam golongan obesitas. Sebaliknya apabila berat badannya kurang dari 10% dibawah berat badan ideal atau dibawah 48,6 maka orang tersebut dikatakan underweight.
Apabila dikehendaki untuk mengurangi berat badan, dapat dilakukan diet rendah kalori dengan ketentuan bahwa penurunan berat badan per bulan hanya kurang lebih 3kg dan perlu diimbangi dengan latihan-latihan fisik misalnya senam.
Adapun bahan makanan yang diberikan sehari untuk jenis diet rendah kalori terdiri dari bahan makanan di bawah ini atau penukarnya.
Beras 100 gr 355 kalori
Daging 150 gr 310 kalori
Telur ayam 1 buah 54 kalori
Tempe 100 gr 149 kalori
Sayuran 400 gr 200 kalori
Buah 400 gr 200 kalori
Minyak 15 gr 100 kalori
Gula 10 gr 36 kalori
+
1.384 kalori
Untuk melakukan diet yang ketat harus minta nasihat dari dokter dan harus selalu ada dalam pengawasannya. Dalam tabel, kenutuhan makanan wanita dewasa dibagi dalam tiga kelompok umur 20-39 tahun, 40-59 tahun dan 60 tahun keatas. Di samping itu tertera juga kebutuhan makanan bagi wanita hamil dan wanita menyusui.
Pria Dewasa
Dalam aktivitas sehari-hari umumnya dibedakan antara kerja fisik otot dan kerja otak. Prestasi kerja fisik otot lebih mudah diukur dan kebutuhan energi hanya ditentukan oleh lama, intensitas dan sifat kerja itu sendiri, apakah kerja itu termasuk kerja berat atau sedang: Misalnya pekerjaan mengetik selama 1 jam yang membutuhkan energi lebih sedikit daripada mengetik selama dua jam. Pekerjaan mencangkul yang dijalankan dengan intensif memerlukan energi lebih banyak daripada mencangkul tang dilakukan sebentar-sebentar berhenti atau dilakukan seenaknya. Kerja mental lebih sukar diukur karena sangat dipengaruhi oleh faktor subjektif. Jadi faktor sumber energi sangat sedikit pengaruhnya terhadap prestasi kerja mental.
Namun demikian diakui bahwa apabila seseorang berada dalam keadaan sakit atau kelaparan, tidak akan dapat bekerja mental dengan baik. Pada umumnya pekerjaan kantor digolongkan ke dalam pekerjaan sedang, dan bagi mereka yang banyak bekerja mental dianjurkan untuk banyak menjaga kesegaran jasmaninya dengan jalan berolah raga. Di samping itu makanan setiap harinya senantiasa perlu diperhatikan.
Golongan umur 40 sampai 65 tahun disebut golongan setengah umur. Gangguan fisik dan kematian yang terjadi pada golongan ini kemungkinan disebabkan oleh:
a. kebutuhan dalam kehidupan sosialnya makin meningkat dan tanggungjawab dalam pekerjaan atau tugas bertambah karena bertambahnya masa kerja
b. kemampuan organ-organ tubuh untuk mengatasi “stres” sudah berkurang.
Kebutuhan makanan bagi pria dewasa dibagi dalamtiga kelompok umur yaitu umur 20-39 tahun, 40-59 tahun dan umur 60 tahun keatas.
Proses seseorang menjadi tua atau usia lanjut ditandai oleh hilangnya kemampuan sel untuk mengadakan reproduksi serta berkurangnya kemampuan untuk mengatasi stres. Adapun kecepatan menjadi tambah tua tergantung pada pengaruh lingkungan, termasuk keadaan gizi mulai masa kanak-kanak. Namun dapat diterima bahwa gizi yang diatur sejak masa kanak-kanak dan dewasa dapat mencegah penyakit-penyakit menahun. Makanan berlebihan akan menyebabkan overweight yang dapat menyebabkan penyakit-penyakit kardiovaskular, diabetes,dan kematian pada usia yang belum tua.
Makanan sumber protein nabati dapat ditambah, sedangkan protein hewani (daging) dapat diperkecil kuantitasnya bagi orang yang berusia lanjut. Karena organ-organ tubuh telah berkurang aktivitasnya dan kemampuan tubuh untuk mengolah makanan yang berlebih sudah menurun, maka kebutuhan makanan bagi pria dan wanita usia lanjut lebih sedikit daripada kebutuhan makanan orang dewasa pada umumnya.
Di bawah ini diberikan contoh menghitung kebutuhan makanan sehari bagi pria umur 25 tahun, dengan menggunakan tabel, dan bahan penukar. Kebutuhan makanan sehari bagi berbagai golongan umur selanjutnya dihitung dengan cara yang sama.
Kebutuhan makanan sehari pria umur 25 tahun:
Nasi = 71/2 gelas = 1.000 gram
Daging = 2 potong = 50 gram
Tempe = 3 potong = 75 gram
Sayuran = 11/2 gelas = 150 gram
Buah (misalnya pepaya = 200 gram
Minyak = 4 sdm = 40 gram
Gula = 5 sdm
Apabila daging akan ditukar dengan sumber protein nabati misalnya tahu, perhitungannya adalah sebagai berikut:
Satu satuan penukar daging (50 gram) mengandung 10 gram protein, sedangkan satu satuan penukar tahu (100 gram) mengandung 6 gram protein. Jadi jumlah tahu yang diperlukan untuk menggantikan 50 gram daging adalah:
10/6 x 100 gram = 1.000/6 = 166 gram tahu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar